Logammu Logamnya

Siang ini, sehabis makan siang dan melakukan pembayaran di mesin atm, saya melewati sebuah jalan yang sempit dan dilalui oleh mobil 2 arah serta bubaran mahasiswa. Cukup ramai memang.

Ada dua kejadian yang menarik disini, pertama, pada saat saya menuju mobil, di depan saya sekitar 4-5 mahasiswa sambil berjalan dan bercanda, mereka berjalan searah dengan saya. salah satu mahasiswa itu melihat (baca:menemukan) sebuah uang logam Rp 200, yang tergeletak di tanah. Mahasiswa itu mengambil uang itu, sambil bergumam tertawa kecil :”ah kirain 500an, ini sih cuma 200an, tapi gpp lah lumayan 200″.

nah, lain lagi dengan kejadian kedua, saat masih berjalan menelusuri jalan itu, saya melihat sebuah uang logam lagi, jelas terlihat Rp 100 , karena terpantul sinar matahari. Bedanya, tidak jauh dari letak uang logam tersebut, ada seorang peminta minta, yang sedang meminta-minta kepada orang yang berlalu lalang di depannya. Anehnya, dia tidak mengambil uang logam yang tergeletak itu.

Kenapa pengemis itu tidak mengambil uang itu? dan kenapa mahasiswa itu justru mengambilnya? kontradiksi kan? siapa yang tahu itu rejeki dari Nya atau bukan? yang jelas, uang tanpa pemilik, sah jika diambil :D

Disini terlihat jelas 2 perbedaan jauh, dalam dunia bisnis, terkadang uang kecil itu dipermasalahkan loh, “100 atau 200 itu, kalau gak ada atau kurang, gak akan jadi 1 juta” itu perkataan yang sering diungkapkan ibu saya dulu sewaktu masih berjualan.

Terkait juga dengan money management, perlakuan uang kecil dan uang besar. Kapan kapan saya post tentang money management.

3 Tanggapan ke “Logammu Logamnya”

  1. Sylvia Berkata:

    Hmmm….membaca mengenai blog lu ini. Gue merasa di sini kita juga meliat hal lain. Ada orang yang selalu mencari sehingga dia menemukannya, sedangkan ada orang yang tidak pernah mau mencari, jadi biarpun udah di depan mata, dia tetap tidak akan melihat. Hanya menunggu orang memberikannya ke tangannya. Tp kita bisa ngeliat kan…sapa yang tetap terus maju ke depan dan siapa yang tetap diam di tempat. Hahahahaha…kok gue jadi seperti nulis blog juga ya.
    Trus terang sampe hari ini gue masih ada peperangan dalam hal mengambil sesuatu yang katanya bukan milik sapa2. Dalam hal logika, memang itu benar, toh bukan milik sapa2 lagi kenapa gak diambil. Tapi dari sudut nurani, gue masih belum bisa melakukan hal itu. Hahahahahaha…itu sebabnya yang membuat gue gak bisa menjadi pebisnis sejati?

  2. newabe Berkata:

    Kalau melulu menentangkan milik nya atau milik ku, ya gak akan jadi pebisnis.
    Intinya kan utk berbisnis ’selisih’ yg ada di tangan.
    Kalau barang, beli lebih rendah, jual lebih tinggi
    Kalau jasa, charge lebih tinggi dari operational.
    Asal tidak lupa memberikan bagian milik TUHAN ke yang membutuhkan, saya rasa sah sah saja.

    kalau beli harga X, jual harga X juga, ,,, bukan bisnis.

  3. Sylvia Berkata:

    Masalahnya…menentukan besar selisih itu. Ok…next time gue akan berusaha menentukan selisih yang menguntungkan buat gue dan memberikan milik TUHAN kepada yang membutuhkannya. Thanks for the advice and semoga gue masih punya kesempatan untuk memulai bisnis yang baru. :)

Tinggalkan Balasan