Daya beli

Di suatu daerah / komunitas, daya beli seseorang bisa berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini, tentu dimotori oleh beberapa faktor, tingkat penghasilan, tingkat kebutuhan, jumlah keluarga tanggungan, jenjang pendidikan, dan lain sebagainya.

Kalau dikupas satu per satu tidak selesai satu hari, tapi yang jelas tingkat penghasilan rata rata daerah sudah barang tentu menentukan kekuatan dari daya beli daerah tersebut, sebut saja Jakarta dengan Bogor, saya rasa untuk penghasilan sudah berbeda dan tentu untuk daya beli juga berbeda.

Pendapatan dengan daya beli berbanding lurus begitu juga dengan nilai kebutuhan suatu produknya. Semakin tinggi nilai kebutuhan akan barang tersebut, tentu .., semakin tinggi kekuatan daya beli nya, sebut saja sembako.

Developing area (atau area yang sedang berkembang) — tentu berperan dalam peningkatan daya beli daerah. Contoh saja, depok, yang kian hari kian merapihkan diri utk menjadi kota yang bisa dikenal banyak kalangan.  Demikian juga dengan penduduk depok.

Contoh produk, coba saja lihat perumahan di Depok, yang masih tergolong murah dibanding kota maju lainnya, Depok yang tidak jauh dari Jakarta, terlihat dengan promosi gencar para pengembang property yang tidak kenal lelah, dan hanya dalam tempo beberapa bulan, stocknya langsung habis.

Sektor sektor seperti perumahan, pendidikan,  makanan, perumahan, dan kesehatan, kelihatannya Indonesia masih jauh lebih murah dibanding negara2 tetangga.

2 Tanggapan ke “Daya beli”

  1. Andi Agustinus Berkata:

    Kalau berbicara tentang “daya beli”, tentu tidak lepas kita akan berbicara dengn konsep “pemasaran”.
    Dalam konsep pemasaran dikenal istilah 4Ps, which are Product, Place, Promotion and Price. (actually the four Ps has developed to 8 Ps, thanks to Seth Godin, but still the four Ps are the basic marketing mix).
    Kalau dikaitkan dengan Kota Depok (as you mentioned as an example), maka Kota Depok adalah sebuah Product yang berada daerah satelit DKI Jakarta (Place) yang memiliki harga tanah (relatif) murah (Price) dimana para pengembang properti sekarang gencar mempromosikan berbagai proyeknya di daerah Depok (Promotion).
    Tentu saja, keempat P tersebut tidak muncul begitu saja. Keadaan demografis dan geografis Kota Depok dan masyarakat Kota Depok merupakan aspek terpenting yang harus diperhatikan dalam mengambil langkah-langkah pemasaran di Kota Depok tersebut. Sebuah pengamatan yang mendalam terhadap keadaan demografis dan geografis sebagai satu langkah untuk mendapatkan data akurat mengenai “Consumer Behavior” masyarakat Kota Depok diperlukan agar produk yang ditawarkan oleh pengembang “tidak sia-sia”, sesuai dengan permintaan pasar, dan mampu bersaing dengan produk lain yang sejenis.
    Keberhasilan pengembang dalam memasarkan produknya bergantung pada seberapa besar pengetahuan pengembang terhadap pasarnya, seberapa baik strategi promosi yang dijalankan dan tentunya seberapa besar minat pasar terhadap produknya.

    Finally, I just wanna say, the differences on markets are the main attraction of marketing.
    That’s why integrated marketing communication is needed.

    PS: I can’t believe I talk this crap tonight. I must’ve drunk by Kool-Aid. Or hit my head without knowing.

    Dilarang keras mengutip, menyadur, menggandakan dan/atau menulis ulang sebagian atau keseluruhan kata-kata di dalam kolom ini tanpa izin penulis. Pengutipan, penyaduran, penggandaan dan/atau penulisan ulang tanpa izin dapat menyebabkan gatal-gatal, kutil berbisul, masuk angin dan buang air tak terkendali. You have been warned.

    “A brand is a brand when they say it without knowing it as a brand.” – 李宝利, 2007.

  2. newabe Berkata:

    Ya, itu sudah isi dari teori. Saya hanya bahas kulitnya aja, maklum. :D

Tinggalkan Balasan