Manusia = penjual

Pernah terpikirkah kalau kita itu adalah sales (penjual).

Manusia itu sebenernya adalah tenaga penjual untuk dirinya sendiri.
Tanpa kita sadari, kita itu menjual.

Di dalam organisasi, ada yang ingin menjadi ketua, tentu dia harus menjual kelebihan2 yang ada dalam dirinya, si calon “ketua” ini, akan bersusah payah untuk meminta para pemilih untuk memilih dirinya.

Di dalam pekerjaan, dalam bernegosiasi salary, kita tentu menjual, entah kelebihan kita dibanding orang lain, entah pengalaman kita dibanding orang lain.

Ketika kita hendak mengikuti suatu kejuaraan/pemilihan, sudah pasti kita melakukan penjualan, pemilihan miss Indonesia, terpikir kan kalau para peserta juga menjual “dirinya” [dalam arti positif] supaya mereka terpilih.

Dalam suatu perusahaan, pendapatan perusahaan, pasti dari penjualan. Semakin tinggi penjualan, semakin tinggi pendapatan, begitu juga sebaliknya.

Nah, atas dasar ini, seharusnya kita tidak takut untuk menjual karena sedari kecil sebenarnya, tanpa kita sadari, kita itu menjual.

Karena kita pada akhirnya “sadar” kalau penjualan adalah tulang punggung kehidupan bisnis, dan “sadar” pula kalau kita adalah tenaga penjual, maka sudah semestinya kita tidak menutup diri untuk belajar penjadi penjual, tidak usah takut untuk menjadi penjual. Berarti tidak usah takut juga untuk membangun bisnis sendiri.

belajar berbisnis, belajar menjual.

2 Tanggapan ke “Manusia = penjual”

  1. Ervinna Pitt Berkata:

    Entah kenapa, menjual itu lebih indah dan terasa lebih sah bila tidak eksplisit.
    Gua ingat waktu lu menawarkan modem lu, kata-kata lu “kalo mau pasang internet cable, gua punya modemnya neh, jangan beli dulu. Gantiin aja uangnya.” walaupun bahasa lu muter-muter, tapi maksud lu menjual kan Be? Tapi berkat itu, kesan yang gua tangkap beda kalo lu bilang “gua ada jual modem nih, vin”
    Mungkin bagi lu sih itu sama aja, tapi karna gua ini bukan pebisnis seperti lu (hehehe) entah kenapa, menjual itu lebih indah bila tidak kata-kata “gue menjual”. Mungkin bahasa Abe yang muter-muter bisa jadi masukan.

  2. newabe Berkata:

    hmm, vin, kalau itu dikategorikan ke strategic marketing kali ya.
    nanti kapan – kapan saya bahas.

Tinggalkan Balasan