Berani gagal

Oktober 9, 2007

ya, dua kata yang cocok sebagai pembuka nasehat untuk entrepreneur atau calon entrepreneur, yaitu BERANI GAGAL.

Kemarin, ada yang cerita ke saya :
“Be, gw dah pindah kerja di hotel baru. Lumayan lah untuk kemajuan karier dong. Untuk masa depan. Supaya nanti cepet sukses.
Be, gw ama temen gw mau usaha nih. Usaha apa ya? haha, usaha kecil – kecilan, tapi yang menguntungkan, yang gak rugi punya, apalagi bangkrut, yang modalnya gak gede gede amat. Kalau bisa pertama tama langsung dapet order, dicari banyak orang. Kalau bisa juga gak ngabisin banyak waktu, soalnya gw kerja. Kira kira apa ya? Soalnya gw gak mungkin kan tergantung sama orang terus, mau sampai kapan?? Udah tua neeeh”

Sungguh, pertanyaan singkat, tapi gak bisa langsung saya jawab. Ya, kompleks soalnya.
Mau usaha, tapi gak mau rugi. Mau usaha, mau langsung laku. Mau usaha yang dicari banyak orang.

Satu yang langsung saya tekankan kepadanya, :”Kalau mau usaha, harus mau rugi. Kalau mau usaha harus berani capek. Kalau mau usaha, ya mulai dari nol”

“Kamu mau usaha, ya harus berani rugi. Misal berani rugi 5 juta, ya mulai usaha dengan modal 5 juta, kalau bisa jalan, bagus, kalau balik modal, bagus, kalau rugi, anggap saja lagi kuliah. Jadi kalau bangkrut 5 jutanya ilang, gak nyesek, gak nangis, gak mengeluh”

“Gak usah takut bangkrut, gak usah takut rugi, gak usah takut gagal. Orang usaha itu bukan dilihat dari berapa kali dia gagal nya. Tapi, dilihat dari berapa kali dia bangkit dari gagalnya”

Mau coba? :D


Just keep on goin’ what you have to do

September 27, 2007

Saya pernah menjumpai orang, yang selalu berpikiran negatif. “Apa sih yang dia kerjakan?” “Kenapa sih dia begini? bukannya dia mestinya begitu saja?” “Coba liat, kalau kamu lakukan ini, dua tahun lagi pasti kamu gak akan maju..” “Ih, si A pasti lagi ngomongin kita di rumah”
Dalam kehidupan sehari – hari kita pasti pernah menjumpai hal ini. Gak usah jauh-jauh, keluarga besar saya sendiri masih suka negatif thinking.

Teman, jika kita ingin sukses di masa tua nanti, pasti kita harus menyiapkannya dari awal. Pasti teman – teman, punya catatan-catatan target yang harus dicapai, hari ini, minggu depan, bulan dan tahun-tahun mendatang. Lalu, bagaimana menanggapi orang-orang di sekeliling kita, yang selalu menyuarakan nada-nada negatif, seakan berkomentar, tapi selalu menciutkan kita?

Biasanya saya selalu suka berkomentar balik,
“Bagaimana kalau usahamu gagal?” – kalau berhasil gimana?
“Bagaimana kalau tidak laku dijual?” – kalau laku terjual ?
“Bagaimana jika mereka complain terhadap produk kita?” – kalau tidak?
Dengan selalu mencoba berpikiran positif, semua ada solusinya.

Tidak usah takut, coba kita lihat, siapa sih mereka yang selalu berpikiran negatif itu? kemudian kita lihat lagi, sudah sejauh mana mereka sukses dalam hidupnya? apakah mereka sudah lebih maju dari kita? mungkin saja belum, atau mungkin saja karena beruntung mendapat usaha warisan dari keluarga. Biarkan mereka terus berkomentar, biarkan mereka diam di tempat, asalkan kita terus berjalan sesuai target kita sendiri, just keep on goin’ what you have to do being success, alhasil kita bisa lebih maju dari mereka 1 – 2 tahun lagi.


Bisnis abcd

September 23, 2007

Ada rumus baku yang sampai sekarang masih suka saya pakai, saya dapatkan ini waktu masih kuliah dan mencoba coba bisnis di MLM. [pendidikan bisnis di MLM yang bonafide bagus loh]

Rumus bakunya adalah bisnis = abcd. Apa itu?

A = alat
Untuk menjalankan sebuah bisnis kita membutuhkan alat.
Bisnis barang, kita butuh benda konkretnya untuk dijual.
Bisnis jasa, kita butuh medianya untuk menjual.
Transportasi, kita butuh kendaraan sebagai alat. [dll]

B = bekerja
Berbisnis , tentu kita butuh bekerja. Tanpa bekerja, jangan harap anda bisa mendapatkan uang. Semua bisa, karena kita bekerja. Walau waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah bisnis itu berbeda beda, tapi kita tetap mesti meluangkan waktu untuk tahap awal berbisnis.

C = cara
Berbisnis pasti ada caranya. Cara berbisnis bermacam – macam, bisa berbisnis dengan menjajakan langsung (direct selling), bisa dengan media atau beriklan, dan lain sebagainya.

D = doa
Satu yang penting tapi sering terlewat. Jangan lupa untuk berdoa, memohon berkatNya, dan berterima kasih atas berkatNya.

mulai dari yang terkecil (uang kecil), jalani teori abcd.
salam,


Manusia = penjual

September 21, 2007

Pernah terpikirkah kalau kita itu adalah sales (penjual).

Manusia itu sebenernya adalah tenaga penjual untuk dirinya sendiri.
Tanpa kita sadari, kita itu menjual.

Di dalam organisasi, ada yang ingin menjadi ketua, tentu dia harus menjual kelebihan2 yang ada dalam dirinya, si calon “ketua” ini, akan bersusah payah untuk meminta para pemilih untuk memilih dirinya.

Di dalam pekerjaan, dalam bernegosiasi salary, kita tentu menjual, entah kelebihan kita dibanding orang lain, entah pengalaman kita dibanding orang lain.

Ketika kita hendak mengikuti suatu kejuaraan/pemilihan, sudah pasti kita melakukan penjualan, pemilihan miss Indonesia, terpikir kan kalau para peserta juga menjual “dirinya” [dalam arti positif] supaya mereka terpilih.

Dalam suatu perusahaan, pendapatan perusahaan, pasti dari penjualan. Semakin tinggi penjualan, semakin tinggi pendapatan, begitu juga sebaliknya.

Nah, atas dasar ini, seharusnya kita tidak takut untuk menjual karena sedari kecil sebenarnya, tanpa kita sadari, kita itu menjual.

Karena kita pada akhirnya “sadar” kalau penjualan adalah tulang punggung kehidupan bisnis, dan “sadar” pula kalau kita adalah tenaga penjual, maka sudah semestinya kita tidak menutup diri untuk belajar penjadi penjual, tidak usah takut untuk menjadi penjual. Berarti tidak usah takut juga untuk membangun bisnis sendiri.

belajar berbisnis, belajar menjual.


Logammu Logamnya

September 14, 2007

Siang ini, sehabis makan siang dan melakukan pembayaran di mesin atm, saya melewati sebuah jalan yang sempit dan dilalui oleh mobil 2 arah serta bubaran mahasiswa. Cukup ramai memang.

Ada dua kejadian yang menarik disini, pertama, pada saat saya menuju mobil, di depan saya sekitar 4-5 mahasiswa sambil berjalan dan bercanda, mereka berjalan searah dengan saya. salah satu mahasiswa itu melihat (baca:menemukan) sebuah uang logam Rp 200, yang tergeletak di tanah. Mahasiswa itu mengambil uang itu, sambil bergumam tertawa kecil :”ah kirain 500an, ini sih cuma 200an, tapi gpp lah lumayan 200″.

nah, lain lagi dengan kejadian kedua, saat masih berjalan menelusuri jalan itu, saya melihat sebuah uang logam lagi, jelas terlihat Rp 100 , karena terpantul sinar matahari. Bedanya, tidak jauh dari letak uang logam tersebut, ada seorang peminta minta, yang sedang meminta-minta kepada orang yang berlalu lalang di depannya. Anehnya, dia tidak mengambil uang logam yang tergeletak itu.

Kenapa pengemis itu tidak mengambil uang itu? dan kenapa mahasiswa itu justru mengambilnya? kontradiksi kan? siapa yang tahu itu rejeki dari Nya atau bukan? yang jelas, uang tanpa pemilik, sah jika diambil :D

Disini terlihat jelas 2 perbedaan jauh, dalam dunia bisnis, terkadang uang kecil itu dipermasalahkan loh, “100 atau 200 itu, kalau gak ada atau kurang, gak akan jadi 1 juta” itu perkataan yang sering diungkapkan ibu saya dulu sewaktu masih berjualan.

Terkait juga dengan money management, perlakuan uang kecil dan uang besar. Kapan kapan saya post tentang money management.